Senin, 27 Agustus 2012

Hentikan Pembantaian Ummat Islam Rohingya di Myammar

Laporan yang dirilis diberbagai media hingga tanggal 28 Juni 2012, 650 orang muslim Rohingya meninggal dunia selama bentrok di wilayah Rakhine, Myanmar barat. Tak kurang dari 1.200 orang hilang dan 80.000 orang lagi kehilangan tempat tinggal. Rezim yang berkuasa di Myammar ( Burma ) menolak untuk mengakui kaum muslim Rohingya sebagai Warga Negara asli , pemerintah Negeri itu menyebut masyarakat muslim Rohingya sebagai pendatang dari Persia Turki, Benggala dan Pathani yang datang ke negeri itu pada abad 8, beberapa ratus tahun yang silam sebagai pendatang gelap. Itulah sebabnya mengapa Ummat Islam Rohingya mengalami penderitaan panjang tanpa perlindungan yang memadai di Negeri Myammar. Negara Republik Persatuan Myammar terletak di Asia tenggara berpenduduk sekitar 50 Juta mendiami daratan seluas 680 ribu kilometer persegi Ibukota Negeri ini berpusat di Naypyidaw sebelumnya di Yangoon, saat ini dipimpin oleh junta militer bernama Presiden Thein Sein Sejak kudeta pada tahun 1988 Negeri ini diperintah Oleh Junta Militer, menyebut Myammar tentulah kita akan langsung teringat pada sosok Aung Sang Suu Ky yang pernah memenangi hadiah Nobel perdamaian, Suu Ky adalah Pimpinan Partai Pro demokrasi yang pada tahun 1990 memenangi Pemilu di Myammar namun kemenangan itu tidak diakui oleh Pemerintahan junta Militer, kisah tentang Suu Ky bukanlah ceritra baru bagi kita. Kembali ke substansi, setelah mengetahui mengenai pembantaian kurang lebih 6000 Orang ummat Islam Rohingya, Masyarakat Islam di Iran langsung bereaksi, kantor berita nasional Iran IRNA ( sabtu 28/7 ) merilis Ayatollah Mohammad Emami Kashani Dalam khutbah Jumat di Teheran dia berkata, “Kita terikat kewajiban yang menurut wejangan Pemimpin Spiritual Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, rakyat Iran mesti bergerak meneriakkan keadilan di dunia, harapan dan idealisme realistis kemanusiaan.” katanya. Selanjutnya Imam pengganti salat Jumat di Teheran, Ayatollah Mohammad Emami Kashani, merujuk pembantaian muslim di Myanmar sebagai kejahatan terhadap umat muslim ” Ujarnya. Reaksi juga ditunjukkan oleh Hon Dr.Nurhayati Ali Assegaf, M.Si,MP Presiden Parlemen Perempuan Dunia, saat ini Beliau juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR.RI, Nurhayati Ali Assegaf menyatakan pembantaian terhadap umat muslim Rohingya menunjukkan tidak berjalannya demokrasi di Myanmar dan aksi itu harus segera dihentikan. Pada bagian lain Nurhayati sebagaimana di kutip dari dakwatuna.com mengatakan “Demokrasi itu melindungi minoritas dan menghargai mayoritas. Pembantaian 6.000 umat sangat jauh dari demokrasi yang selama ini kita menghargai atau memberikan asistansi proses demokrasi di Myanmar,” kata Nurhayati kepada pers di Jakarta selasa (2/7) yang lalu. Ia juga mendesak kepada Parlemen Dunia, Inter Parliamentary Union (IPU) untuk segera bersikap dan mengambillangkah tegas terkait pembantaian 6.000 umat muslim Rohingya, Myanmar. Semoga protes dan kritikan dari dunia Islam terhadap pembantaian masyarakat minoritas kaum muslimin di Myammar didengarkan oleh Organisasi Kerja sama islam yang dulu disingkat OKI, para pemimpin Negara Asean, bahkan lembaga Perlindungan Hak Asasi Manusia, agar dapat merumuskan sebuah kebijakan yang sebaik-baiknya untuk menyelesaikan masalah pembantaian kaum minoritas oleh kaum mayoritas tanpa menimbulkan gejolak, di Tanah para Jenderal yang kurang toleransi terhadap demokrasi, agar Damai dibumi dan damai diakhirat nanti****

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar